Pageviews!

read this:

mohon selalu cantumkan nama penulis, link atau nama blog setiap kali anda ingin menyalin atau men-copy paste.
Showing posts with label teks. Show all posts
Showing posts with label teks. Show all posts

Tuesday, January 20, 2015

TUGAS BAHASA INDONESIA SEMESTER 2 KELAS 8 MENYUSUN TEKS BIOGRAFI SUATU TOKOH BESERTA STRUKTUR BIOGRAFI DEWI SARTIKA

TUGAS BAHASA INDONESIA SEMESTER 2
MENYUSUN TEKS BIOGRAFI SUATU TOKOH



SMPN 1 CILEGON




Disusun Oleh: 1. Hana Salvia (20), 2. Vany Maharani P (34)


Kelas:  VIII/A



Dewi Sartika

Dewi Sartika dilahirkan dari keluarga priyayi Sunda, Nyi Raden Rajapermas dengan Raden Somanagara. Meskipun bertentangan dengan adat waktu itu, ayah-ibunya bersikukuh menyekolahkan Dewi Sartika di sekolah Belanda. Setelah ayahnya wafat, Dewi Sartika diasuh oleh pamannya (kakak ibunya) yang menjadi patih di Cicalengka. Oleh pamannya itu, ia mendapatkan pengetahuan mengenai kebudayaan Sunda, sementara wawasan kebudayaan Barat didapatkannya dari seorang nyonya Asisten Residen berkebangsaan Belanda.

Sedari kecil, Dewi Sartika sudah menunjukkan bakat pendidik dan kegigihan untuk meraih kemajuan. Sambil bermain di belakang gedung kepatihan, ia sering memperagakan praktik di sekolah, belajar baca-tulis, dan bahasa Belanda, kepada anak-anak pembantu di kepatihan. Papan bilik kandang kereta, arang, dan pecahan genting dijadikannya alat bantu belajar.

Waktu itu, Dewi Sartika baru berumur sekitar sepuluh tahun, ketika Cicalengka digemparkan oleh kemampuan baca-tulis dan beberapa patah kata dalam bahasa Belanda yang ditunjukkan oleh anak-anak pembantu kepatihan. Gempar, karena waktu itu belum ada anak (apalagi anak rakyat jelata) yang memiliki kemampuan seperti itu, dan diajarkan oleh seorang anak perempuan.

Setelah remaja, Dewi Sartika kembali lagi kepada ibunya di Bandung. Jiwanya yang telah dewasa semakin menggiringnya untuk mewujudkan cita-citanya. Hal ini didorong pula oleh pamannya, Bupati Martanagara, yang memang memiliki keinginan yang sama. Tetapi, meski keinginan yang sama dimiliki oleh pamannya, tidak menjadikannya serta merta dapat mewujudkan cita-citanya. Adat yang mengekang kaum wanita pada waktu itu, membuat pamannya mengalami kesulitan dan khawatir. Namun karena kegigihan semangatnya yang tak pernah surut, akhirnya Dewi Sartika bisa meyakinkan pamannya dan diizinkan mendirikan sekolah untuk perempuan.


Tahun 1906, Dewi Sartika menikah dengan Raden Kanduruan Agah Suriawinata, dari pernikahannya itu ia memiliki putra bernama R. Atot, yang merupakan Ketua Umum BIVB, sebuah klub sepak bola yang merupakan cikal bakal dari Persib Bandung. Suami dari Dewi Sartika memiliki visi dan cita-cita yang sama dengan Dewi Sartika, guru di sekolah Karang Pamulang, yang saat itu merupakan sekolah Latihan Guru.

Sejak 1902, Dewi Sartika sudah merintis pendidikan bagi kaum perempuan. Di sebuah ruangan kecil, di belakang rumah ibunya di Bandung, Dewi Sartika mengajar di hadapan anggota keluarganya yang perempuan. Merenda, memasak, jahit-menjahit, membaca, menulis dan sebagainya, menjadi materi pelajaran saat itu

Usai berkonsultasi dengan Bupati R.A. Martenagara, pada 16 Januari 1904, Dewi Sartika membuka Sakola Istri (Sekolah Perempuan) pertama se-Hindia-Belanda. Tenaga pengajarnya tiga orang : Dewi Sartika dibantu dua saudara misannya, Ny. Poerwa dan Nyi. Oewid. Murid-murid angkatan pertamanya terdiri dari 20 orang, menggunakan  ruangan pendopo kabupaten Bandung.

Setahun kemudian, 1905, sekolahnya menambah kelas, sehingga kemudian pindah ke Jalan Ciguriang, Kebon Cau. Lokasi baru ini dibeli Dewi Sartika dengan uang tabungan pribadinya, serta bantuan dana pribadi dari Bupati Bandung. Lulusan pertama keluar pada tahun 1909, bahasa sundabisa lebih mememenuhi syarat kelengkapan sekolah formal.

Pada tahun-tahun berikutnya di beberapa wilayah Pasundan bermunculan beberapa Sakola Istri, terutama yang dikelola oleh perempuan-perempuan Sunda yang memiliki cita-cita yang sama dengan Dewi Sartika. Pada tahun 1912 sudah berdiri sembilan Sakola Istri di kota-kota kabupaten  
(setengah dari seluruh kota kabupaten se-Pasundan). Memasuki usia ke-sepuluh, tahun 1914, nama sekolahnya diganti menjadi Sakola Kautamaan Istri (Sekolah Keutamaan Perempuan). Kota-kota kabupaten wilayah Pasundan yang belum memiliki Sakola Kautamaan Istri tinggal tiga/empat, semangat ini menyeberang ke Bukittinggi, di mana Sakola Kautamaan Istri didirikan oleh Encik Rama Saleh. Seluruh wilayah Pasundan lengkap memiliki Sakola Kautamaan Istri di tiap kota kabupatennya pada tahun 1920, ditambah beberapa yang berdiri di kota kewedanaan.

Bulan September 1929, Dewi Sartika mengadakan peringatan pendirian sekolahnya yang telah berumur 25 tahun, yang kemudian berganti nama menjadi "Sakola Raden Déwi". Atas jasanya dalam bidang ini, Dewi Sartika dianugerahi bintang jasa oleh pemerintah Hindia-Belanda.

Dewi Sartika meninggal 11 September 1947 di Tasikmalaya, dan dimakamkan dengan suatu upacara pemakaman sederhana di pemakaman Cigagadon-Desa Rahayu Kecamatan Cineam. Tiga tahun kemudian dimakamkan kembali di kompleks Pemakaman Bupati Bandung di Jalan Karang Anyar, Kabupaten Bandung.

Semangat dan jasanya dalam memperjuangkan kaum wanita agar mendapatkan pendidikan tidak sepantasnya kita lupakan. Jadi, sudah sepantasnya kita mengenang jasa Dewi Sartika. Semoga dengan apa yang telah dilakukannya, wanita-wanita Indonesia dapat memperoleh pendidikan yang lebih baik.





Wednesday, October 23, 2013

Contoh dari Conversation of Greeting, Introducing, and Leave Taking (contoh percakapan atau dialog menyapa, berkenalan, dan penutup)



Saya membuat ini ketika saya mendapat tugas dari guru saya untuk membuat dialog percakapan menyapa, berkenalan, dan penutup dengan bahasa inggris pada kelas 7. 
Langsung saja :)

Conversation of greeting, introducing, and leave taking between Hana and Risma in the class.

Hana: “A sunny day, isn’t it?”

Risma: “Yeah, really!”

Hana: “How’re you, today?”

Risma: “I’m fine, thanks, and you?”

Hana: “Not too bad! Thanks”

Risma: “By the way, can you allow me to introduce myself?”

Hana: “Sure, why not? Haha”

Risma: “Okay! My name is Risma Millenia Cantika, you can call me ‘Risma’, what’s your name?”

Hana: “It’s my pleasure to have acquaintance with you! My name is Hana Salvia”

Risma: “thanks, me too! Wow! You have a beautiful name, Hana!”

Hana: “Really? Haha thanks Risma!”

Risma: “Yes, your welcome. By the way, how old are you?”

Hana: “I’m 12 years old”

Risma: “Me too! Where do you live, Hana?

Hana: “I live in Cilegon with my family, and you?

Risma: “Same with me! I live in Cilegon with my family, too!”

Hana: “Oh, what’s your favorite food?"

Risma: “My favorite food is pasta, how about you?”

Hana: “I don’t have favorite food, in my opinion, all the food tastes good! What’s your favorite color?”

Risma: “Oh, my favorite colour is red, and you?”

Hana: “My favorite colour is green, where do you study, Risma?

Risma: “I study at JHS 1 Cilegon, how about you?”

Hana: “I study at JHS 1 Cilegon, too!”

Risma: “That’s nice! We're study in the same school. Sorry, I’ve to go now! See you next time, Hana!”

Hana: “It’s been nice to talking to you! Yes, of course. See you!”

Risma: “Okay, take care! Bye”

Contoh Teks Hasil Observasi (THO) Pohon Jati kelas 7



ini adalah contoh teks hasil observasi buatan saya, saya membuat ini untuk tugas yang diberikan guru saya. Saya jelaskan dahulu, struktur teks hasil observasi dibagi menjadi 3, yaitu:

  • Definisi Umum.
  • Deskripsi Bagian.
  • Deskripsi Manfaat.

langsung saja :3

TEKS HASIL OBSERVASI POHON JATI
Jati dikenal dunia dengan nama teak (bahasa Inggris). Nama ini berasal dari kata thekku(തേക്ക്) dalam bahasa Malayalam, bahasa di negara bagian Kerala di India selatan. Nama ilmiah jati adalah Tectona grandis L.f.Jatiadalah sejenis pohon penghasil kayu bermutu tinggi. Pohon besar, berbatang lurus, dapat tumbuh mencapai tinggi 30-40 m. Berdaun besar, yang luruh di musim kemarau. Daun jati yang lebar ketika gugur dan jatuh ke tanah membutuhkan waktu yang lama untuk melapuk sehingga menghalangi tumbuhan lain untuk tumbuh dan berkembang. Daun – daun jati yang gugur juga mudah terbakar. Jati sering tumbuh di hutan homogen, yakni hutan yang tumbuhannya hanya satu jenis. Pohon ini dikenal awet, indah, kokoh, tahan api dan tahan serangan rayap serta cuaca.Pohon jati (Tectona grandis sp.) dapat tumbuh meraksasa selama ratusan tahun dengan ketinggian 40-45 meter dan diameter 1,8-2,4 meter. Namun, pohon jati rata-rata mencapai ketinggian 9-11 meter, dengan diameter 0,9-1,5 meter. Pohon jati yang dianggap baik adalah pohon yang bergaris lingkar besar, berbatang lurus, dan sedikit cabangnya. Kayu jati terbaik biasanya berasal dari pohon yang berumur lebih daripada 80 tahun.Pohon jati memiliki bagian – bagian, yaitu:    
1.1  Daun; 1.2 Batang / Kayu;1.3 Ranting; 1.4 Akar
Daun pada pohon jati memiliki manfaat untuk berfotosintesis, menghasilkan oksigen dan menghirup karbon dioksida, obat penawar rasa sakit dan juga obat tradisional pelangsing tubuh, kayu jati sejak lama dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan kapal laut, termasuk kapal-kapal VOC yang melayari samudera di abad ke-17. Juga dalam konstruksi berat seperti jembatan dan bantalan rel. Di dalam rumah, selain dimanfaatkan sebagai bahan baku furniture kayu jati digunakan pula dalam struktur bangunan. Rumah-rumah tradisional Jawa, seperti rumah joglo Jawa Tengah, menggunakan kayu jati di hampir semua bagiannya: tiang-tiang, rangka atap, hingga ke dinding-dinding berukir. Dalam industri kayu sekarang, jati diolah menjadi venir (veneer) untuk melapisi wajah kayu lapis mahal; serta dijadikan keping-keping parket (parquet) penutup lantai. Selain itu juga diekspor ke mancanegara dalam bentuk furniture luar-rumah. Ranting-ranting jati yang tak lagi dapat dimanfaatkan untuk mebel, dimanfaatkan sebagai kayu bakar kelas satu. Kayu jati menghasilkan panas yang tinggi, sehingga dulu digunakan sebagai bahan bakar lokomotif uap. Sedangkan akar pada jati untuk menyerap air dari dalam tanah, dan juga digunakan sebagai pewarna.