Pageviews!

read this:

mohon selalu cantumkan nama penulis, link atau nama blog setiap kali anda ingin menyalin atau men-copy paste.
Showing posts with label Kritik. Show all posts
Showing posts with label Kritik. Show all posts

Saturday, April 18, 2015

Setuju diperlukannya pembentukan Polisi Parlemen? Justru pejabat perlu pendidikan moral!

Anggota DPR di Republik kita selama ini sepeti hanya ingin hidup di dunia sendiri, bener ga guys? Kumpulan wakil rakyat harusnya menyatu dengan kami para rakyat bukan membangun tenbok tinggi untuk memisahkan diri. Benar ga sih itu yang terjadi selama ini? haha oke disini gue akan bahas topik terbaru dari sejumlah Anggota DPR.

Anggota DPR tengah mewacanakan pembentukan Polisi Parlemen. Dan tau ga sih? Berdasarkan draf dokumen Desain dan Konsep Usulan Parliamentary Police, Polisi Parlemen nantinya berkekuatan 1.994 personel! Dan Polisi Parlemen dipimpin perwira Polri berpangkat brigadir jendral. Benar benar kan wacana yang ga masuk akal, cuma menghambur-hamburkan uang rakyat.

Segudang bahkan seabrek fasilitas juga telah dirancang, mulai kantor, dan bahkan ratusan senjata api yang bermacam-macam.

Lah terus apa sih tugas dari Polisi Parlemen nantinya? Tugas Polisi Parlemen yang pembentukannya sudah mulai dibahas dengan Polri itu pun KHUSUS untuk mengamankan fasilitas milik parlemen dan terutama anggota parlemen. Dan katanya bahkan tidak hanya Gedung DPR, rumah dinas anggota DPR pun juga akan dijaga.

Parahnya lagi, setiap perjalanan dinas setiap anggota dewan akan selalu dikawal Polisi Parlemen. Beginilah jika wakil rakyat hanya memikirkan perutnya sendiri, skenario seperti ini sudah pasti sangat membutuhkan dana tambun dan apa? lagi lagi uang kami para rakyat yang digelontorkan. Pada akhirnya juga mereka jadi sumber kebocoran dana APBN kan? Jika seperti ini buat apa polisi parlemen?


Gue juga tau ga salah sih kalian sebagai pejabat negara atau anggota DPR berhak mendapatkan pengamanan. Namun tidak sampai berlebihan hingga harus dibentuk Polisi Parlemen seperti ini. Katanya mereka wakil rakyat, kok mereka malah takut dengan rakyat hingga membuat wacana seperti ini?

Selama anggota dewan yang masih bermental petugas partai seperti ini dan bukan mental seorang wakil rakyat hal seperti ini akan terus terjadi. Ini lah yang disebut ketidakberpihaknya kepada rakyat dan juga pemborosan keuangan negara. Gedung DPR jelas milik rakyat yang harus terbuka unruk rakyat yang hendak menyampaikan aspirasinya.

Tolong lah para perwakilan kami, berpikirlah dari sisi rakyat. Jangan hanya bicara kepentingan kalian. Kami sudah hidup susah, diluar sana pun masih banyak yang untuk makan saja sulit. Apa kalian tidak merasa malu telah menyakiti para rakyat oleh program yang sama sekali tidak prorakyat?

Benar-benar ide aneh ya? haha pokoknya dipandang dari sisi manapun pembentukan Polisi Parlemen ini sangat tidak perlu, dan tidak patut! Benarkan pendapat saya?
Terima kasih telah membaca tulisan harapan kecil dari saya seorang siswi SMP yang bermimpi bangsanya akan selalu maju, menjadi lebih baik, dan terus berdiri tegak hehe.

Gue sangat meminta maaf jika adanya salah kata dan lainnya dari gue. Terima kasih, ikuti terus post terbaru gue!

Wednesday, January 21, 2015

Artikel Kesalahan Sistem Metode Pembelajaran di Indonesia (Surat untuk Kemendikbud dan Guru - Guru Indonesia)


"4 x 6 Atau 6 x 4?!"
Habibi seorang bocah kelas II SD yang sedih dan galau memikirkan PR matematikanya yang dicoret-coret oleh banyak tinta merah oleh gurunya, skor yang ia dapat pada PRnya hanya angka 20. Habibi belum mengerti soal-soal yang membuatnya mumet. Ia menanyakan semua yang ia tidak tahu pada kakaknya bernama Muhammad Erfas Maulana, mahasiswa teknik mesin yang selalu siap mengajari dengan sabar dan telaten. Habibi selalu percaya diri dengan jawaban sang kakak. Tapi, mengapa jawaban kakaknya dinilai salah oleh sang guru?

Soal tersebut berbunyi,
"4 + 4 + 4 + 4 + 4 + 4 = ...."
sementara Habibi menjawab,
"4 x 6 = 24"

Rupanya, jawaban itu dianggap salah total. Sebab, jawaban yang benar tercantum adalah 6 x 4 = 24.
Habibi melapor pada kakaknya. Tidak menerima penilaian sang guru Erfas mengajukan surat protes.

Bu guru yang terhormat, Mohon maaf sebelumnya, saya kakak dari Habibi yang mengajarinya mengerjakan PR diatas. Bu, bukankah jawaban dari Habibi benar semua.. apa mungkin karna letak angkanya terbalik? sehingga disalahkan?
Menurut saya, masalah peletakan bukanlah masalah. Walau peletakan berbeda tetap hasilnya sama-sama 24. Terimakasih bu, mohon perhatiannya. Semoga dapat dipertimbangkan.

Tetapi mungkin surat itu hanya sampai di meja guru, Erfas pun meng-upload gambar surat dan isi PR Habibi. Ratusan orang men-share posting-an Erfas tersebut. Banyak yang mencela guru, ada pula yang mengutuk sistem pembelajaran Indonesia. Facebook menjadi riuh akan 4 x 6 dan 6 x 4.

Lima belas tahun yang lalu, di sebuah elementary school (Sekolah Dasar) di Amerika Serikat, seorang pria berkandidat Doktor mengajukan protes kepada guru SD tempat sang anak belajar. Menariknya, protes bukan lantaran si bocah diberi skor 20. Justru, sang ayah protes karna karangan berbahasa Inggris yang ditulis si anak diberi nilai excellent atau sempurna, hebat, sangat bagus. Padahal, sang anak baru tiba di Amerika dan baru belajar bahasa. Menurut kandidat doktor itu, karangan sang anak buruk, logikanya sederhana, kemampuan verbal masih sangat terbatas sehingga patutnya guru memberikan skor E.

"Apa anda tidak salah dalam memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi nilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri."
Sewaktu dia mengaajukan protes, ibu guru yang menerima hanya bertanya singkat "Maaf, Bapak dari mana?" "Dari Indonesia," jawabnya. Dia pun tersenyum. Ibu guru yang simpatik itu berujar, "Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak-anaknya dididik disini. Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement! Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda. Namun, untuk anak yang baru tiba dari negara yang bahasa aslinya atau yang bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin ini adalah karya yang hebat."
Anda tahu, siapa kandidat doktor yang "memprotes" guru anaknya itu? Dia adalah Prof. Rhenald Kasali Phd.

Dua cerita diatas disajikan supaya kita bisa jeli dalam menyaksikan paradoks yang "menampar" wajah pendidikan kita.
Kasus 4 x 6 atau 6 x 4 adalah letupan kecil, sebuah contoh betapa guru plus sistem pendidikan kita belum mengembangkan budaya penghargaan kepada anak. Mengapa ketika "salah" menjawab, anak langsung diberi skor salah total? Mengapa tidak ada penghargaan bahwa anak sudah meluangkan waktu, untuk mau, bersedia mengorbankan waktu istirahat dan bermainnya untuk mengerjakan tugas maupun PR? Mengapa guru tidak mengapresiasi upaya anak yang mau mencari mentor dan bertanya kepada kakaknya? Dan, mengapa kita begitu terpaku sengan nilai skor kuantitatif?

Terlalu banyak "Mengapa" yang bisa terjadi. Murid hanya dipacu untuk mengerjakan soal, dengan kunci jawaban yang sudah dipegang erat olehsang guru. Jadi, Murid nyaris tidak diberi kesempatan untuk menunjukan potensi masing - masing. Ketika mengkreasikan suatu hal, kebanyakan murid di Indonesia akan hanya menelan pil pahit berupa judgement dari guru: "Karya ini buruk sekali!", "Kurang rapi!", dan sebagainya. Bahkan pernah karya seni teman saya dipamerkan keseluruh kelas dan dijadikan contoh bahwa ini bukanlah cara yang bagus untuk berkreasi dan menjelek - jelekkannya didepan semua mata murid.

Saya minta tolong untuk Pak Jokowi yang menempatkan Anies Baswedan dan orang - orang terbaik di kementerian ini. Buat apa anggaran tinggi, tapi distribusi buku masih acakadut, dan sistem belajar mengajar masih seperti ini. Apa mungkin dari judulnya saja, Kurikulum 2013, Merangsang nalar dan membangun karakter.

Dan tentu saya yakin seorang Prof B.J Habibie tak akan menjadi profesor hebat apabila matematikanya dulu hanya diberi skor 20 oleh sang guru.




Sekian, beberapa kalimat saya ambil melalui koran yang ditulis oleh pemerhati pendidikan orangtua siswa "Nurul Rahmawati"

Wednesday, November 19, 2014

Pendapat gue tentang naiknya BBM di Indonesia yang lagi heboh

First, Maaf kalo gue ada salah kata gue cuma anak SMP yang masih belajar..
gini masyarakat di Indonesia aja beli sekotak rokok mau harganya naik, pajaknya besar, dan juga udah tau efek sampingnya gimana aja tetep aja mampu beli dan MAU beli, ga ada demo toh selama ini? Sekarang lo liat di daerah terpencil seperti Papua? kenapa malah dinaikan 2000 aja di kota sampai demo koar-koar kebakaran jenggot? Saya juga ngerti masyarakat di Indonesia masih banyak sekali angka kemiskinan dan juga efek samping BBM naik adalah semua bahan makanan atau sembako juga ikut naik, itu yang saya pikirkan akan nasib rakyat yang menengah ke bawah. 

Sekarang lo contoh aja deh negara luar misalkan Jepang yang lebih milih Transportasi Umum dan Sepeda, cuma kita mesti ganti pola pikir masyarakat yang menganggap bahwa naik sepeda itu jadi gengsi jadi gaya gayaan semuanya serba deket tapi pake kendaraan pribadi. Kalau sudah tau bahwa kendaraan memiliki efek boros ngapain masih digunain terutama buat yang menengah kebawah sampe kredit segala macem buat beli motor.

Dan juga emang harga minyak dunia lagi ga tentu turun naiknya, kenaikan harga sebesar Rp 2.000 per liter sesuai dengan ekspektasi harga minyak dunia yang sedang turun. Hanya saja, yang perlu diperhatikan adalah keberlangsungan jangka panjang. Harga minyak dunia bisa saja terus turun atau mengalami kenaikan.Maka dari itu, sebaiknya pemerintah menerapkan subsidi tetap. 

Dengan subsidi tetap, anggaran subsidi akan stabil hingga akhir tahun. Secara artifisial, rendahnya harga BBM menyebabkan konsumsi BBM yang tidak efisien. Dan kenapa ya Indonesia ga ngelola sendiri dengan membuka pertambangan negara misalnya? Buat apa mogok mogokan kalo malah ga dapet uang gara gara mogok, malah nambah susah toh? kalo kata gue mendingan sih dibuat dana khusus buat angkutan umum atau masyarakat menengah kebawah. sekali lagi maaf kalo gue ada salah kata :v gue cuma anak SMP yang PEDULI sama kondisi Indonesia guys. 

Kata bapak Presiden pun bicara kalo ini adalah keputusan berat yang harus diambil.. Kalo gue sih gatau ya mesti terima atau ga terima namun kalo ngeliat kondisi rakyat gue ga terima tapi kalo gue liat kondisi minyak di dunia yaa gimana ya-_- dan gue bukan sok kaya dan sok mampu gue masih bergantung sama ortu yang gue ikut kasihanin karna kenaikan ini, so ngapain ngebanggain harta ortu sendiri?

inilah daftar harga BBM di 60 negara, mulai dari yang termahal hingga termurah dalam hitungan galon:
1. Turki (US$9,89)
2. Norwegia (US$9,63)
3. Belanda (US$9,09)
4. Italia (US$8,87)
5. Portugal (US$8,82)
6. Yunani (US$8,62)
7. Swedia (US$8,50)
8. Belgia (US$8,41)
9. Prancis (US$8,38)
10. Denmark (US$8,22)
11. Hong Kong (US$8,15)
12. Finlandia (US$8,12)
13. Inggris (US$8,06)
14. Irlandia (US$8,05)
15. Jerman (US$7,96)
16. Israel (US$7,67)
17. Slovakia (US$7,61)
18. Slovenia (US$7,60)
19. Malta (US$7,44)
20. Hungaria (US$7,21)
21. Swiss (US$7,19)
22. Spanyol (US$7,06)
23. Austria (US$7,03)
24. Republik Ceko (US$6,97)
25. Lithuania (US$6,94)
26. Siprus (US$6,88)
27. Latvia (US$6,83)
28. Luksemburg (US$6,81)
29. Korea Selatan (US$6,77)
30. Selandia Baru (US$6,73)
31. Estonia (US$6,70)
32. Jepang (US$6,70)
33. Rumania (US$6,70)
34. Polandia (US$6,67)
35. Bulgaria (US$6,53)
36. Australia (US$6,31)
37. Singapura (US$6,29)
38. Cile (US$6,20)
39. Brasil (US$5,40)
40. Argentina (US$5,39)
41. Afrika Selatan (US$5,06)
42. India (US$5)
43. Filipina (US$4,87)
44. Kanada (US$4,76)
45. China (US$4,74)
46. Kolombia (US$4,72)
47. Thailand (US$4,42)
48. Pakistan (US$3,98)
49. Indonesia (US$3,68)
50. Rusia (US$3,47)
51. Amerika Serikat (US$3,29)
52. Meksiko (US$3,22)
53. Malaysia (US$2,36)
54. Nigeria (US$2,34)
55. Iran (US$2,15)
56. Uni Emirat Arab (US$1,77)
57. Mesir (US$1,24)
58. Kuwait (US$0,81)
59. Arab Saudi (US$0,45)
60. Venezuela (US$0,06)

btw buat lo yang menengah keatas ikutan ga terima nih baca link ini:
http://regional.kompas.com/read/2014/11/18/19213701/.Lucu.Ya.BBM.Naik.Tak.Sampai.Rp.10.000.Saja.Sudah.Mengeluh.